Branding sering dianggap urusan “nanti”.
Banyak pebisnis baru berpikir:
“Yang penting jualan dulu.”
“Branding itu buat bisnis besar.”
“Kalau sudah untung baru dibagusin.”
Padahal kenyataannya, branding justru menentukan apakah bisnis akan dipercaya sejak awal atau tidak.
Banyak bisnis dengan produk bagus gagal berkembang bukan karena produknya jelek, tetapi karena brand-nya tidak meyakinkan.
Sebaliknya, banyak bisnis biasa-biasa saja bisa terlihat premium karena branding yang tepat.
Dalam artikel ini, kita akan membahas 10 kesalahan branding paling sering dilakukan pebisnis baru, lengkap dengan dampaknya dan cara menghindarinya.
1. Menganggap Branding Hanya Logo
Ini kesalahan paling klasik.
Banyak pebisnis baru mengira branding = logo.
Padahal logo hanya satu bagian kecil dari branding.
Branding mencakup:
-
identitas visual (warna, font, signage)
-
cara berbicara ke pelanggan
-
tampilan toko (luar & dalam)
-
pengalaman pelanggan
-
kesan pertama saat orang melihat bisnis Anda
Jika logo bagus tapi:
-
toko tidak menarik
-
signage tidak jelas
-
media sosial tidak konsisten
Maka branding tetap dianggap lemah.
👉 Solusi:
Anggap branding sebagai pengalaman menyeluruh, bukan sekadar desain logo.
2. Meniru Brand Lain Tanpa Punya Identitas Sendiri
Terinspirasi boleh, meniru mentah-mentah adalah kesalahan.
Contoh yang sering terjadi:
-
coffee shop meniru brand viral
-
warna dan font mirip kompetitor
-
konsep copy-paste tanpa jiwa
Akibatnya:
-
bisnis sulit diingat
-
terlihat “versi KW”
-
tidak punya ciri khas
-
mudah tenggelam di antara kompetitor
Brand yang kuat selalu punya identitas unik, meskipun sederhana.
👉 Solusi:
Tentukan 1–2 karakter utama brand Anda:
-
hangat?
-
premium?
-
santai?
-
profesional?
-
lokal?
-
modern?
Lalu terapkan secara konsisten.
3. Branding Tidak Sesuai Target Pasar
Ini kesalahan yang sering tidak disadari.
Contoh:
-
target pasar lokal, tapi branding terlalu “turis”
-
target turis, tapi tampilan terlalu sederhana
-
target anak muda, tapi visual kaku
-
target premium, tapi signage murahan
Branding yang tidak nyambung dengan target pasar akan membuat:
-
orang ragu masuk
-
pelanggan salah ekspektasi
-
traffic rendah
👉 Solusi:
Tanya satu pertanyaan sederhana:
“Brand ini mau bicara ke siapa?”
Branding harus bicara dengan bahasa visual yang dipahami target.
4. Tampilan Luar Toko Tidak Dipikirkan Serius (Kesalahan Paling Sering)
Ini kesalahan branding paling sering, terutama bisnis offline.
Pebisnis baru biasanya fokus:
-
interior
-
alat
-
stok
-
menu
-
staff
Tapi lupa:
Bagian luar adalah salesman pertama.
Kesalahan yang sering terjadi:
-
tidak ada papan nama jelas
-
signage terlalu kecil
-
hanya spanduk sementara
-
huruf tidak terbaca dari jalan
-
toko menyatu dengan bangunan sekitar
Akibatnya:
-
bisnis tidak terlihat
-
orang lewat tidak sadar ada toko
-
pelanggan potensial hilang
👉 Solusi:
Investasikan branding luar sejak awal:
-
huruf timbul
-
neon box
-
pencahayaan fasad
-
tampilan depan yang bersih dan jelas
Branding luar bukan biaya, tapi investasi traffic.
5. Terlalu Banyak Elemen, Tidak Fokus
Banyak pebisnis ingin semuanya masuk:
-
banyak warna
-
banyak font
-
banyak slogan
-
banyak ornamen
Hasilnya justru:
-
terlihat berantakan
-
sulit diingat
-
tidak profesional
Brand yang kuat biasanya sederhana dan konsisten.
👉 Solusi:
Batasi:
-
2–3 warna utama
-
1–2 jenis font
-
1 pesan utama
Sederhana justru lebih kuat.
6. Tidak Konsisten Antara Online dan Offline
Kesalahan ini sering terjadi di era digital.
Contoh:
-
Instagram terlihat modern, toko biasa saja
-
logo di online beda dengan signage
-
warna feed beda dengan warna toko
-
tone caption beda dengan pengalaman di toko
Akibatnya:
-
brand terasa “tidak utuh”
-
pelanggan bingung
-
trust menurun
👉 Solusi:
Samakan:
-
warna brand
-
logo
-
font
-
vibe di semua touchpoint: online & offline.
7. Menganggap Branding Tidak Berdampak ke Penjualan
Ini kesalahan fatal.
Banyak pebisnis berkata:
“Yang penting jualan, branding mah belakangan.”
Padahal branding mempengaruhi:
-
apakah orang mau masuk
-
apakah orang percaya
-
apakah orang merekomendasikan
-
apakah orang balik lagi
Branding yang kuat:
-
menaikkan persepsi nilai
-
membuat harga terasa “pantas”
-
meningkatkan repeat customer
👉 Solusi:
Ubah mindset:
Branding bukan hiasan, tapi alat jualan jangka panjang.
8. Tidak Memanfaatkan Branding sebagai Konten
Branding bisa jadi bahan konten yang sangat kuat:
-
proses pembuatan logo
-
pemasangan huruf timbul
-
before-after fasad
-
cerita di balik brand
Sayangnya, banyak pebisnis melewatkan ini.
👉 Solusi:
Dokumentasikan proses branding.
Konten autentik jauh lebih menarik daripada iklan kaku.
9. Menunda Branding Terlalu Lama
Menunda branding adalah kesalahan strategis.
Karena:
-
kesan pertama sudah terbentuk
-
orang sudah punya persepsi
-
lebih mahal memperbaiki daripada membangun dari awal
👉 Solusi:
Branding tidak harus mahal di awal, tapi harus jelas sejak awal.
10. Memilih Vendor Branding Asal Murah
Harga murah sering jadi jebakan:
-
bahan cepat rusak
-
finishing buruk
-
signage cepat mati
-
tampilan tidak rapi
Akhirnya malah keluar biaya dua kali.
👉 Solusi:
Pilih vendor yang:
-
paham branding
-
punya portofolio
-
berpengalaman
-
mengerti kebutuhan bisnis, bukan cuma produksi
Kesimpulan: Branding Menentukan Apakah Bisnis Anda Dipercaya atau Tidak
Dari 10 kesalahan di atas, dua yang paling sering dan paling berdampak adalah:
1️⃣ Mengabaikan tampilan luar toko
2️⃣ Menganggap branding tidak berpengaruh ke penjualan
Padahal, di dunia bisnis yang kompetitif:
Orang membeli dari brand yang mereka percaya, bukan sekadar yang murah.
Branding yang kuat:
-
membuat bisnis terlihat profesional
-
menarik pelanggan pertama
-
meningkatkan traffic
-
membangun kepercayaan jangka panjang
Dan salah satu elemen branding paling krusial untuk bisnis offline adalah signage yang jelas dan berkualitas.
✨ Penutup
Jika bisnis Anda:
-
kurang terlihat
-
sulit diingat
-
kalah mencolok dari kompetitor
-
atau ingin naik level branding
Mulailah dari branding visual yang tepat, terutama bagian luar toko.
Huruf timbul dan neon box yang dirancang dengan baik bukan hanya mempercantik toko, tapi mengundang pelanggan untuk masuk.



